Semar Bangun Khayangan Di Acara Bersih Desa

Karyabhakti.desa.id | 07 Oktober 2018 – Wayang merupakan karya seni yang memiliki keunikan yang luar biasa. Dari sebuah pergelaran wayang, kita tidak hanya memperoleh tontonan, namun juga mendapatkan tuntunan. Dengan keindahannya, wayang menjadi media hiburan.

Namun wayang juga bisa menjadi sarana penyebaran informasi efektif untuk mendidik masyarakat melalui penyampaian pesan-pesan, terutama pesan nilai-nilai moral.

Wayang Indonesia sepatutnya menjadi salah satu warisan dunia. Hal ini kemudian diakui oleh United Nations Education Social and Culture Organization (UNESCO) pada tanggal 7 November 2003 yang lalu bahwa Wayang Indonesia merupakan Karya Agung Budaya Dunia atau Masterpiece of the Oral Intangible Heritage of Humanity.

Di masa yang lalu, wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang yang menceritakan tentang kehidupan manusia. Dulu, nenek moyang kita meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat, sehingga saat itu (barangkali sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi bayangan atau dalam bahasa Jawanya “wewayangan”. Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen.

Namun, setelah agama-agama besar masuk ke Indonesia, wayang berubah peran menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, sehingga muncullah banyak lakon yang disesuaikan dengan konteks ajarannya yang mengusung dan bermetamorfosis dengan realita jamannya.

Di era modern ini, wayang merupakan sebuah kesenian. Wayang merupakan warisan budaya klasik yang mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yang berarti sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita yang terbeber jelas dalam hati si penggambar.

Suasana Pagelaran Wayang Kulit Kampung Karya Bhakti – doc: Ida Amanda (fb)

Wayang juga bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan karakter manusia yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang.

Oleh karena itu, Kampung Karya Bhakti memilih acara Wayang sebagai malam puncak dari perayaan tahun baru Islam 1440 H sekaligus sebagai kegiatan inti dari bersih desa. Ki Bambang Mudho Carito sebagai dalang dari Seputih Banyak, Lampung Timur memilih lakon wayang tersebut dengan judul cerita Semar Bangun Khayangan. Diharapkan pada acara tersebut, masyarakat Karya Bhakti khususnya dapat memetik pelajaran berharga dari kebudayaan warisan nusantara tersebut.

 

by: Pendekar

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan